Artikel
Pengrajin Perak dari Barrang Lompo
Makassar, Peminat hasil kerajinan masyarakat Barrang Lompo ini bukan hanya dari Kota Makassar tetapi hingga ke luar negeri.
Pulau Barrang Lompo terletak sekitar 12 kilometer sebelah barat Kota Makassar dan berada di kawasan Kepulauan Spermonde. Pulau ini memiliki luas sekitar 89 hektar, dengan jumlah penduduk kurang lebih 5.000 jiwa dan berasal dari berbagai etnik. Untuk sampai di pulau ini dari Kota Makassar, ditempuh perjalanan sekitar satu jam dengan menggunakan speed boat. Sekitar 90%, mata pencaharian penduduk pulau ini sebagai nelayan, si-sanya bekerja disektor lain.
Mendengar kata nelayan, mungkin Anda membayangkan sebuah pulau kecil dengan aksesoris berupa rumah-rumah panggung kayu, pohon-pohon kelapa, pe-rahu nelayan yang tertambat di pinggir pantai, anak-anak nelayan yang melangkah tanpa sandal pengalas kaki, aroma laut ber-campur ganggang hijau dan amisnya ikan, serta teriakan para nelayan saat me-ngangkat sauh.
Keadaan seperti ini memang banyak terlihat dibeberapa pulau kecil di wilayah Kepulauan Spermonde di Selat Makassar dan beberapa wilayah pesisir lainnya.
Namun lain halnya dengan pulau Barrang Lompo, yang sejak empat tahun terakhir, memiliki pemandangan yang sudah sangat berbeda. Dimana bangunan rumah permanen berjejer rapat, pantai yang telah direklamasi serta kesibukan masyarakat yang tidak jauh berbeda dengan Makassar. Sekalipun masih samar tercium hembusan aroma laut disela semilir angin, tapi udara di Pulau Barrang Lompo telah didominasi oleh bau asap kendaraan bermotor mau-pun aroma parfum dari muda mudinya. Adanya laboratorium penelitian biota laut milik Universitas Hasanuddin sangat memberikan peranan penting bagi kehi-dupan masyarakat di pulau tersebut. Hal ini dirasakan oleh Saleh(52), seorang pengrajin perak sejak tahun 1986. “Usaha kerajinan ini saya lakoni, begitu mendapat informasi bahwa akan dibangun laboratorium penelitian biota laut di sini,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya be-berapa waktu lalu.
Lokasi kerajinan perak yang dimiliki Saleh ini sangat strategis karena ber-hadapan dengan dermaga, sehingga begitu turun dari perahu, sudah nampak beberapa koleksi hasil kerajinannya. Berbagai macam koleksi kerajinan perak disimpan dalam lemari kaca seperti berbentuk perahu phinisi (Rp 1.000.000), mobil (Rp700.000), kuda (Rp 500.000) yang semua terbuat dari perak. Selain itu, Saleh juga memiliki ra-tusan koleksi dari hasil laut seperti gelang sisik, gantungan kunci, kaligrafi pada kulit kerang dengan beragam bentuk unik dan khas.
Dalam mengelola usahanya, Saleh me-miliki lima orang tenaga kerja dengan menggunakan alat batu gurindam. Anehnya, sekalipun harga yang ditawarkan sejak beberapa puluh tahun yang lalu tidak pernah berubah tetapi keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan kerajinan ini cukup lumayan. Peminatnya pun bukan ha-nya mereka yang berasal dari Makassar saja, melainkan dari seluruh Tanah Air, bahkan wisatawan mancanegara sengaja meluang-kan waktunya ke pulau ini untuk membawa ole-ole berupa perahu phinisi perak kene-garanya ataupun kerajinan lainnya.
Jika kerajinan perak ini dikembangkan dan dikelola secara profesional, maka kedepannya kerajinan perak di Makassar mampu mengalahkan kerajinan serupa dari daerah lain. (mt)

