TELKOM

Berita Kriya

Selasa, 19 Pebruari 2008 10:36:37
Produk Kerajinan dari Limbah Alam
Kategori: Berita Media (6884 kali dibaca)
AGNES SWETTA PANDIA — Kompas.com
Kalau ingin produk tetap diterima pasar, minimal lima model kerajinan tangan wajib dibuat setiap hari. Soal bahan baku tak masalah, karena limbah pun sebenarnya bisa “disulap” menjadi produk kerajinan. Namun, Anda mesti siap, begitu produk itu laku, maka dalam sekejap akan banyak produsen barang serupa.

Begitu cepat dan mudahnya barang-barang kerajinan tangan dicontoh pelaku lain, membuat Setyaning Utami (46) harus terus berinovasi. Di tengah kesibukannya mengajar di dua sekolah, Utami terus mengembangkan usaha kerajinan tangan di rumahnya di Jalan Widuri 4B Banjarsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Tak jarang Utami bersama pegawainya, termasuk dua putrinya, setiap kali liburan sekolah harus bekerja hingga larut malam, karena pesanan dari Bali dan Malaysia terus mengalir.

“Harga produk yang dibuat memang tidak mahal, tetapi ada saja yang pesan dalam jumlah besar, terutama dari Malaysia,” kata Utami yang sudah empat tahun mengembangkan usaha kerajinan yang melibatkan 50 perajin ini.

Guru SMP Negeri 2 Kalipuro, Banyuwangi, itu juga mengajar di pondok pesantren khusus bidang studi keterampilan.

“Berprofesi ganda sama sekali tidak menyulitkan, karena saya hanya membuat contoh barang. Penggarapan dikerjakan perajin di rumah masing-masing, dengan upah borongan,” kata perempuan kelahiran Malang, Jatim.

Para perajin juga dilatihnya selama tiga bulan, sebelum menjadi perajin untuk usaha bermerek Widuri Art ini. Utami juga menguji calon perajin sebelum mengikuti pelatihan, alasannya, produk kerajinan sarat inovasi, bahan bakunya pun limbah kering termasuk biji-bijian. Ini perlu kesabaran dan ketelitian dalam pengerjaannya.

“Jika penggarapan barang kerajinan asal-asalan, konsumen protes. Penyelesaiannya tak cukup dengan kata maaf, karena menyangkut reputasi pelaku usaha,” ujar Utami yang mengaku kreativitasnya makin berkembang saat didera berbagai persoalan.

Sedotan plastik

Usaha kerajinan tangan Utami berawal dari keterampilannya membuat berbagai bentuk bunga dan binatang dari sedotan plastik. Membuat kerajinan tangan dari sedotan plastik dilakukannya sekadar mengisi waktu luang sepulang mengajar.

Bentuk bunga matahari buatannya langsung dibeli rekannya. “Promosi dari mulut ke mulut terus berlangsung. Dari beberapa bungkus sedotan plastik, sampai satu mobil pick up (bak terbuka) penuh sedotan plastik, dibuat menjadi berbagai bentuk bunga dan binatang,” tutur Utami yang kala itu rumahnya tak pernah sepi dari orang yang ingin belajar membuat kerajinan dari sedotan plastik.

Belum lagi dia sempat mempromosikan produk kerajinannya, dua pemilik toko di Banyuwangi siap menampung berapa pun jumlah barang yang bisa dihasilkannya.

“Harga produk kerajinan dari sedotan seperti rangkaian bunga matahari bisa sampai Rp 50.000. Setiap barangnya tersedia, pasti terjual,” ujarnya mengenang kejayaan kerajinan sedotan plastik.

Ketika makin banyak produsen membuat kerajinan sedotan plastik, produk Utami pun tak lagi laris. Bahkan, banyak orang di Banyuwangi yang lalu membuat sendiri produk kerajinan sedotan.

“Saya sempat berhenti menjalankan usaha kerajinan. Tetapi, dasar senang kerajinan tangan, saya lalu membuat bunga kering dari berbagai bahan baku termasuk kertas koran. Usaha kerajinan saya geluti lagi dengan modal tak lebih dari Rp 500.000,” ujarnya.

Sampah kering

Begitu cintanya Utami pada kerajinan tangan, membuatnya selalu mencoba berbagai produk kerajinan. Bahan bakunya terutama sampah kering seperti rumput, berbagai daun kering, biji-bijian, kulit pohon, sampai sisa gergajian kayu, batu, dan pasir.

Dia tak hanya berusaha membuat desain baru, tetapi juga menggunakan bahan baku yang belum dilirik produsen lain.

“Kelemahan pada usaha kerajinan tangan, produk itu mudah dicontoh pelaku lain. Jadi, kita mesti kreatif kalau mau tetap mendapat tempat di pasaran lokal maupun internasional. Ini tak cuma untuk model produk, tetapi juga bahan baku yang berbeda,” kata Utami yang kini tengah membuat lampu dan hiasan dinding dari daun sirsak dipadu pelepah pisang.

Untuk mengantisipasi minat konsumen, Utami rajin mengunjungi pameran di berbagai kota. Dari pameran pula, dia mendapat pemasok untuk sebagian bahan baku seperti lem, plastik, dan pewarna, yang secara rutin dipasok dari Yogyakarta.

Pentingnya inovasi digambarkan Utami dengan mencontohkan pesanan dari Malaysia. “Mereka suka pesansampai ribuan buah, tanpa contoh barang, dan hanya mengatakan yang unik dan eksklusif. Permintaan itu harus kita terjemahkan sendiri,” tutur Utami yang sampai kini pun masih bersedia membagi ilmu membuat kerajinan bagi siswa dan ibu rumah tangga.

Produk kerajinannya beragam, dari berbagai pernik suvenir sampai hiasan khas seperti boneka pasangan gandrung Banyuwangi dari fiberglass. Harganya pun amat bervariasi, mulai dari Rp 500-Rp 30.000 per buah.

(Webmaster)
 
 
Good
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar