Opini Publik
Minggu, 13 Agustus 2006 06:11:29
Perajin Gula Semut Masih Sangat Tergantung pada Pengepul
Kategori: Umum (455 kali dibaca)
Hampir separuh perajin bedil senapan angin di wilayah sentra produksi Cipacing dan Cikeruh, Kecamatan Cikeruh, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, gulung tikar akibat lesunya perdagangan dalam tiga tahun belakangan.
Pada tahun 2000, perajin di daerah itu mencapai 204 orang, namun sampai Mei 2003 jumlah perajin di dua desa itu menyusut drastis, tinggal 129 orang. Bahkan, di kawasan Cikeruh yang menjadi basis dan perintis pembuatan senapan angin perajin dan pedagang tinggal 80 orang.
Hal itu disampaikan Ketua Koperasi Bina Bakti Senapan Angin Edi Suhaidi, di Sumedang, Rabu (18/6). Lesunya perdagangan komoditas itu cukup memprihatinkan mengingat andalan masyarakat Cikeruh berasal dari sirkulasi usaha senapan angin tersebut.
Pemantauan Kompas, sejumlah gerai dan toko yang menjual senapan angin di sepanjang ruas Jalan Cipacing Raya tampak sepi. Agus Tindi, penjaga gerai, mengatakan, dalam seminggu jumlah senapan angin yang terjual hanya satu pucuk, bahkan kadang kala tidak laku selama sebulan.
"Banyak usaha gulung tikar. Demikian juga nasib pemuda desa yang selama ini bekerja di bengkel-bengkel bedil akhirnya menjadi buruh pabrik," kata Edi Suhaidi.
Menurut dia, kondisi politik dan ekonomi Indonesia sejak tahun 1998 cukup memberi andil sepinya bisnis ini. Oleh karena itu, usaha bedil ini sudah tidak menguntungkan, menyusul kenaikan biaya produksi seperti besi, kayu, dan sejumlah peralatan usaha. Kenaikan produksi hampir tiga kali lipat, namun harga bedil tetap bertahan. Harga bedil dengan ukuran panjang 40 sentimeter berkaliber 4,5 milimeter masih dijual dengan harga Rp 65.000 seperti lima tahun lalu.
Edi juga mengatakan, pengaruh politik dan keamanan dengan munculnya kebijakan pembatasan wilayah perdagangan turut memicu turunnya perdagangan bedil. Sekarang ini, senapan angin produksi Cikeruh dan Cipacing tidak bisa dikirim ke daerah lain, seperti Aceh, Medan, Kalimantan atau Papua. (AS)
Pada tahun 2000, perajin di daerah itu mencapai 204 orang, namun sampai Mei 2003 jumlah perajin di dua desa itu menyusut drastis, tinggal 129 orang. Bahkan, di kawasan Cikeruh yang menjadi basis dan perintis pembuatan senapan angin perajin dan pedagang tinggal 80 orang.
Hal itu disampaikan Ketua Koperasi Bina Bakti Senapan Angin Edi Suhaidi, di Sumedang, Rabu (18/6). Lesunya perdagangan komoditas itu cukup memprihatinkan mengingat andalan masyarakat Cikeruh berasal dari sirkulasi usaha senapan angin tersebut.
Pemantauan Kompas, sejumlah gerai dan toko yang menjual senapan angin di sepanjang ruas Jalan Cipacing Raya tampak sepi. Agus Tindi, penjaga gerai, mengatakan, dalam seminggu jumlah senapan angin yang terjual hanya satu pucuk, bahkan kadang kala tidak laku selama sebulan.
"Banyak usaha gulung tikar. Demikian juga nasib pemuda desa yang selama ini bekerja di bengkel-bengkel bedil akhirnya menjadi buruh pabrik," kata Edi Suhaidi.
Menurut dia, kondisi politik dan ekonomi Indonesia sejak tahun 1998 cukup memberi andil sepinya bisnis ini. Oleh karena itu, usaha bedil ini sudah tidak menguntungkan, menyusul kenaikan biaya produksi seperti besi, kayu, dan sejumlah peralatan usaha. Kenaikan produksi hampir tiga kali lipat, namun harga bedil tetap bertahan. Harga bedil dengan ukuran panjang 40 sentimeter berkaliber 4,5 milimeter masih dijual dengan harga Rp 65.000 seperti lima tahun lalu.
Edi juga mengatakan, pengaruh politik dan keamanan dengan munculnya kebijakan pembatasan wilayah perdagangan turut memicu turunnya perdagangan bedil. Sekarang ini, senapan angin produksi Cikeruh dan Cipacing tidak bisa dikirim ke daerah lain, seperti Aceh, Medan, Kalimantan atau Papua. (AS)

